S bicara:
Media dan Isu Terorisme
Pers dalam bentuk media baik cetak maupun elektronik sering dijadikan parameter ciri dari demokratis atau tidaknya sebuah pemerintahan. Pers dapat diartikan sebagai pemasok dan penyebarluaskan informasi yang diperlukan untuk penentuan sikap, sarana penyampaian kritik bahkan sebagai media yang ampuh dalam membentuk opini publik dengan menempatkan dirinya sebagai wadah independen dimana isu-isu permasalahan umum bisa diperdebatkan. Dibawah pemerintahan otoriter, pers adalah mahluk yang paling tersiksa . Ia korban sekaligus terpaksa harus menjadi pelakunya sendiri. Begitulah nasib pers dibawah pemerintahan otoriter, yang konon tidak terkecuali pers dibawah rezim orde baru.
Lantas, bagaimana kabar pers pasca tumbangnya orde baru. Ternyata jawabanya tidak serta merta menjadikan pers sesuatu yang ideal dan mesti kita terima. Pers saat ini baik koran, majalah, radio serta televisi memang telah lepas dari rezim orde baru. Namun, hal itu sama sekali tak praktis menjadikannya bebas dan otonom. Dengan berbagai alasan, ia tetap entitas yang penuh dengan kepentingan, sadar atau tidak sadar, terorganisasikan atau tidak. Dan karenanya ia tetap harus diwaspadai. Berbagai kepentingan di balik pers bisa ditunjuk sebagai faktor tidak bebas dan otonomnya pers: modal, organisasi, idiologi, kultur hingga soal-soal yang bersifat teknis, seperti soal keterbatasan kemampuan dan akses.
Karena soal-soal ini, kita bisa saja saksikan dalam suatu perkara pers tetap menjadi corong pemerintah atau kelompok kepentingan tertentu dan dalam perkara yang lain ia menjadi agen penyebar prasangka di masyarakat dan menjadi provokator konflik, juga dalam masalah lain ia hadir sebagai “penghukum” berikutnya terhadap seorang korban dan sebagainya. Kita juga bisa cermati bagaimana dan mengapa “kaum santri” hilang dari pers kita dan tiba-tiba kita temukan mereka muncul sebagai “teroris”, bagaimana pers dijadikan “mesin politik”, bagaimana sorang tokoh mengalami delegitimasi dan mengalami pembunuhan karakter serta membuat opini buruk terhadap sesuatu hal yang baik.
Ya… begitulah media dengan realita dalam dirinya sendiri. Kemampuan menjadi pemain dalam industri media, contohnya, jelas tidak secara berimbang dimiliki oleh publik. Pemainnya itu-itu saja. Media pun memiliki fungsi idiologis, dan melakukan manuver politik sesuai dengan fungsi idiologinya. Ini akan mencakup masalah siapa, kepentingan apa, dan perspektif mana yang akan memperoleh akses ke media mereka. Diluar fungsi idiologis yang dijalankan, bagaimanapun juga, media pertama-tama perlu terlebih dahulu dilihat sebagai institusi ekonomi dan karenanya manuver yang dijalankan melalui politik pemberitaannya juga dikemas sebagai komuditas informasi yang berusaha menyiasati tuntutan serta peluang pasar.
Dan sepertinya, peran media ini sangat vitas dalam politisasi isu terorisme atau perang melawan terror. Isu peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Calton serta perburuan Nurdin M Top begitu santer diberitakan. Media pun seolah-olah langsung men-justice/menuding Nurdin dalang semua itu, bahkan sebelum ada konfirmasi dari pihak Kepolisian. Bahkan adegan “penggerebegan” itu pun di siarkan secara langsung seperti acara pertandingan liga inggris yang tentunya menarik minat publik untuk nonton bareng. Kita pun seolah langsung dicekoki bahwa kepentingan Amerika lah dan bahkan Presiden terpilih yang jadi target. Dan yang paling aneh kenapa semua tersangka pelaku bom harus tewas dalam penangkapan, bukankah jika ingin menguak kejadian yang sebenarnya perlu introgasi. Tapi memang dalam hal ini media bukanlah pemain tunggal, untuk memuluskan sekenario busuk ini, harus pula melibatkan oknum-oknum baik dari inteligen, kepolisian dan pelacur penjual kepentingan bangsa lainnya. Namun bagaimanapun yang sebenarnya, kini telah terasa Islamfobia pada negara berpenduduk muslim terbesar dunia ini.
Demikian kegundahan ku ini kawan. Tulisan ini bukan bermaksud mendukung peledakan bom dan aksi teroris karena tidak ada satu pun risalah agama (yang konon di anut para pelaku) membenarkan perlakuan tersebut. Ku hanya mengajak, mari melihat lebih dalam, mendengar lebih peka, kita bukan bagian dari sejarah yang mereka tulis dan bingkiskan… karena ku yakin kita takkan pernah tunduk!
Demikian suarat ku kawan, yang kutulis di sebuah tempat yang sering dijadikan setting kelahiran aktor dagelan terorisme: Banten.
R bicara:
Manakah yang lebih enak??
Menjadi dalang ataukah wayang? Dalang bisa berbuat sesukanya menggerakkan si Wayang, sementara Wayang tunduk kepada si Dalang, bagai kerbau dicocok hidung?
Ataukah lebih baik menjadi Sinden, yang melagukan setiap kejadian dengan iringan simfoni para penabuh gamelan? Atau lebih baik menjadi penabuh gamelan? penggesek rebab? peniup seruling?
Ah, sudahlah… satu hal yang pasti kita bisa lakoni adalah menjadi… penonton.
kanghadied bicara:
@ R…
Oleh karena itulah sudah menjadi relevan lagi bagi para mahasiswa khususon di kawah candradimuka UI yang katenye itu kampus perjuangan, terdidik dan terbina sebagai ‘agent of change‘ harus segera diubah. Saya masih ingat dalam media 2005 isu ini berhembus kencang. Tapi kini mahasiswa (status kita) pun manusia pasca kampus lainnya seperti rekans haruslah diubah mind set-nya menjadi ‘director of change‘. Tapi klo terlibat jangan juga jadi ‘pemain pembantu untuk pemain figuran’ yang keliatan kaki doang…
Ah susah, saya juga masih jadi ‘figuran hilir mudik’. Berbeda dengan rekans…
@ S….
Alhamdulillah ada bahasan menarik nih…sesuai fokus konsentrasi hehe!
hmmm. Ya lah kang sur saya mah sapagodos lah… namun selain itu,
Antara Fakta Masygul dan Reality Show…
Fakta-fakta yang tersaji dalam tulisan kang Sur mengindikasikan secara kuat adanya suatu fakta yang masygul. Kegundahan yang terasa di diri kang Sur adalah sama seirama dengan kegundahan hati ini. Meski begitu, kita tidak tersadarkan atau malahan alam bawah sadar kita telah terbenam dengan realita dan jargon-jargon manipulasi media.
Fakta masygul dalam analisa awam saya tereplikasi dalam beberapa pertanyaan mendasar:
1. Mengapa tidak bisa ditangkap hidup-hidup?!
Memang benar ada dua kubu yang menyatakan mereka (teroris-red) tidak pantas hidup di satu sisi dan mereka harus ditangkap hidup2 di sisi yang lain. Alangkah baiknya kita lebih mendalami mudharat-maslahatnya. Saya kira dengan hidupnya mereka pihak berwenang dapat membongkar jaringan teroris secara keseluruhan paling tidak beberapa aksi mereka ke depan. Hal ini tidak terlihat dalam kasus Ibrahim.
Opini yang terjadi di sebagian masyarakat adalah bahwa sebenarnya Ibrahim (jika memang terbukti terlibat) telah mati (ditangkap, ditembak, diungsikan, diamankan) saat bom meledak di hotel itu. kenapa? karena memang telah ada skenario sebelumnya. Okelah jika pandangan masyarakat awam memang tidak secanggih polisi, misalnya. Fair, kita terima itu! Tapi apakah DVI pernah mengumumkan kapan jam kematian persis dan detail dari Ibrahim? Maaf rekan, dalam komik Conan saja setiap identifikasi pasti dilakukan perkiraan waktu kematian. Jika memang mati saat ditembak di Temanggung, maka jamnya saat itu kan? Tapi bagaimana jika memang telah dipersiapkan mayat Ibrahim di lokasi… hayoo? Menurut Conan, hal ini penting untuk mengidentifikasi siap pelaku sebenarnya. Jangan-jangan…. ah naudzubillah! Kalau ada skenario tersebut (teori konspirasi, CIA, BIN, polisi, pemerintah, dll.) sungguh alangkah jahatnya!
Masalah hidup-mati ini juga meresahkan keluarga yang anak remajanya jadi korban doktrinasi.
misal dua orang yang ditembak mati di Jati Asih, alasannnya adalah karena melempar bom pipa. Oke kita mengerti dan paham sekali situasi saat itu. Tapi ada gak laporan tertulis dari polisi, atau saksi mata dari masyarakat apakah benar ada pelemparan bom pipa. Oke gak ada yang lihat, paling gak ada yang denger toh kalau meledak. Oke deh semua tetangga pada buta dan tuli. Wartawan pun gak ada yang nanya begitu. Aneh. hey, man, ini kompleks perumahan. Gila!
2. Kemasygulan terlihat dari management/buku panduan teroris. Tidak mungkin tempat di Temanggung dijadikan kembali lokasi persembuyian untuk kedua kalinya. Dalam kamus teroris, tempat tersebut telah ‘terkontaminasi’. Hal ini berlaku bagi teroris beneran yang udah ketangkap. mereka juga dianggap terkontaminasi, tidak dapat masuk golongan lagi. Ehmmm… tapi mengapa ya Ada salah satu tersangka kemarin yang ditembak itu mantan napi teroris bom kuningan. Rasanya aneh jika seorang Nurdin (dalam hal hal ini saya masih tidak dapat mempercayai eksisnya Nurdin, atau hanya rekaan pihak tertentu saja, sama seperti Syehk Usamah bL) tidak mungkin ceroboh seperti kasus di Temanggung.
3. Mana dua tersangka yang tertembak di Temanggung pada malam pertama pengintaian. Hal ini terekam jelas dari pengakuan Sudarsono (kalau tidak salah atau Sudarmono) dalam salah satu berita di tvOne yang akhirnya tidak ditayangkan lagi. Sudarsono inilah yang dimintai lampu sorot dan diminta memanggil pemilik rumah yang kelak ditangkap dan kini sudah dibebaskan. Tidak ada keterangan dari polisi seputar masalah ini, pun begitu pula dari wartawan tidak ada yang bertanya… aneh!
4. Reality show. Jika antum masih suka denger TV kebanggaan kita yakni TVRI, akan dibahas segitiga opini dari Dewan pers, KPPI, dan masyarakat diwakili Sutiyoso saat itu yang memborbardir tvOne dan tv lain serta media cetak (tidak disebutkan) atas tanyangan ‘reality show’nya. Tidak perlu dijelaskan di sini secara panjang lebar, namun ada 3 masalah utama: pertama, penayangan kekerasan. Kedua, kerahasiaan informasi. Apakah mereka tidak belajar dari kasus Bombay, dimana akibat ditayangkan live begitu menyebabkan tewasnya komandan polisinya. Entahlah… atau karena lagi-lagi masalah rating. Ketiga adalah klaim yang belum tentu benar dari tulisan running-news bahwa NMT telah tewas dan dapat dipastikan. Masalah yang ketiga ini juga berlaku bagi penggunaan kata “TERORIS” pada beberapa remaja yang diindikasikan terlibat. Alhasil ada satu keluarga dan masyarakat yang menolak kehadiran tvOne di kampungnya. Inilah akibat dari ditembak matinya ‘tersangka’ teroris tanpa kita tahu dia itu disesatkan atau memang benar-benar teroris.
Hey man, modus ini serupa dengan apa yang ditimpakan kepada HAMAS. Kita tahu di Indonesia ada perang bahasa antara Kompas dan Republika (yang sekarang terlihat lebih lunak).
Saya kira daripada teroris ini ditangkap dan diuber oleh polisi lebih baik, dimasukkan aja email dari polisi minta bantuan sama tim termehek-mehek, curhat bareng anjasmara, atau orang ketiga. Saya lebih yakin mereka dapat tertangkap kamera. Mudah, simple! Lebih enak ditonton (menurut para IRTs)
5. Mengapa harus saat ini?!
Ada dua hal yang mendasari aksi terorisme NMT dalam waktu-waktu ini. Klaim SBY adalah karena ingin menghancurkan pemilu. (uh… saya bosan dengan politik teraniaya-nya, dari 2004 ampe sekarang gak berubah juga. Terbukti rekans! setelah ‘kacaletot’ pidato pasca bom Mega Kuningan, beliau tidak berkomentar lagi…dan ini juga khusnudzon atas rival politik yang kemudian masyarakat menilai sebagai ibu Mega. JK langsung jumpa pers dan mengatakan: emangnya kita yang bom! Sungguh pidato ini bukan contoh pidato pemimpin yang baik. Pidato ini nanti kita bahas lagi… karena bahasan pidato ini ‘ngalelep juga’ waktu itu.)
Hal lain mengapa bom Megkun harus saat ini adalah pendapat saya pribadi. Saya kira rekan (terutama dalam yang belajar politik) mengenal istilah Manajemen Isu dan Pencitraan. Kang Sur dan rekans, saya berani menyampaikan hal ini mumpung belum jadi kembalinya UU Anti-Subversif/Intelejen.
Klo udah dibalikin lagi… wah gawat tenan! Dan maaf bagi para pendukung Si Derri Youkesono!, atau mungkin juga email ini telah terbaca oleh komputer super canggih kayak di Angels & Demons... haha. nunggu waktu ditangkep Babinsa lagi?! Hey man, desk anti teror udah aktif… Babinsa punya kewenangan nangkep yang ‘dianggap teroris’.
Welcome ORBA episode II” Return!
Tapi di kampus kita juga sih ada yang jadi intel, direkrut sejak dari SMA…(pengalaman ane waktu mau ditangkap)… bahkan dibiayai kuliahnya, atau perkiraan saya ada di dalam kabinet kampus, jadi orang eksekutif kampus, dll. Atau ada diantara kita dalam forum ini… (becanda ah, jangan dibawa serius ya!)
Baiklah, kembali pada manajemen isu ini. Dari 2004 sampai sekarang terkesan ada sistem cepat pengalihan isu masyarakat. Misalnya pada isu kenaikan BBM, elpiji, dan kebijakan nirpopuler lainnya (baca: kebijakan anti rakyat). Beberapa kasus seperti kenaikan BBM langsung ditimpali dengan kasus Lapindo.
Nah, silakan mencari dan analisa sendiri RUNUT WAKTU beberapa kasus kebijakan nirpopuler (dimana ada hak rakyat disana) dan kasus-kasus yang menyita perhatian rakyat. Maaf rekan, saya punya kesimpulan ada oknum kabinet ini yang pintar membaca situasi dan kemudian melakukan pengalihan isu.
Lalu dalam kasus NMT? Mengapa harus dalam waktu-waktu ini! Sebelumnya adem-ayem aja to atau berhadil diredam. Rekan, runutlah kembali ke awal pemilu ini digelar jika memang klaim SBY adalah keterkaitan terorisme dengan pemilu. Rekans, saya mengajak antum untuk melihat dan berfikir ulang serta bertanya kiri-kanan sekitar dan pada hati antum serta fakta lapangan… Apakah memang benar ada kecurangan DPT? Saya yakin 100% dan tidak bisa mengelak bahwasanya kecurangan DPT ada dan masif. Rekans, silakan berpendapat sendiri.
Dari kasus ini saya melihat adanya pengalihan isu atas kecurangan DPT. Dimulai dari kasus Antasari yang kemudian dinilai gagal dan dilanjutkan dengan kasus terorisme ini. Rekans, kita memang patut curiga. Kadangkala maling terak maling. Rekans, apakah terlewat setiap berita atas peradilan MK atas gugatan pemilu. Pastinya tidak, namun instensitaslah yang menyusut, mengerucut lalu hilang tertimpa oleh isu gembar-gembor terorisme.
Rekans, apakah ada yang peduli atas hasil dari MK tadi? Apakah masyarakat tahu hasil MK? Tahu ya hanya sedikit yang tahu dan peduli. Andaikata tahu pun, apa keputusan detailnya? Apa dampaknya bagi kehidupan rakayat nanti? Coba tanyakan ini pada pedangan kaki lima.
Tidak ada yang peduli kecuali lagi kepentingan orang-orang yang terlibat di dalamnya (DPR, politikus) berapa persen perbandingannya dengan rakyat. Manipulasi media ini sungguh menyesakkan. Saya tak ingin andaikata CNN atau BBC hadir di Indonesia dengan wajah lain (sebutlah dua TV yang berbasis news).
Rekans, pernahkah ada pemikiran awam mengapa juga sibuk-sibuknya teroris mengancam presiden. Mengapa tidak rival politiknya. Hayoo ada yang bisa jawab? Apakah karena kemenangan mutlak (hasil semu saya menyebutnya, karena yang golput juga banyak). Ada pemikiran iseng seperti ini:
“Teroris MNT motifnya ngebom itu karena benci AS plus mitranya… klo sampe nyerang pemimpin kite tuh tandanya dia mitranya juga!.”
Rekans, fakta seputar blog juga merupakan hal biasa yang dilakukan oleh Mossad dengan meluncurkan blog pendukung Izzudin al-Qassam misalnya, dan dari sana bisa didapat data pendukung dan basis massa, tanpa tahu yang daftar itu siapa yang bikin sitenya. Dari sini bisa diacak-acak identitas (karena ada no kontak dan email palagai rekening bank) dan suatu saat diklaim digunakan untuk jadi martir. Nah, lihat aja filemnya Leo di Caprio yang baru (ane lupa namanya… tapi yang terlibat adalah intelejen CIA, dan Yordan: oh ya Body of Lies). Film ini mendapat rating buruk di negrinya sono bahkan gak kedengeran gaungya di BOX OFFICE.
Blog NMT juga kemungkinan bukan buatan siap-siapa. Selalu dan tentu saja, sistem dan mekanisme serupa. Rekans, saya terlalu banyak bicara ah. Yang terpikir yang tertulis. Seputar kajian terorisme… dan mengapa terjadi dua pandangan terhadap terorisme ada di http://kanghadied.wordpress.com/ 2009/07/28/terorisme- pemaknaan-definisi-terorisme- dalam-dua-sudut-pandang/.
Rekans, saya hanya mau mengajak apapun manipulasi media, mari menyelami lebih dalam tujuan dibalik tujuan dari berita yang sampai ke tangan kita… seperti titah Rasul.
Rekans, sebenarnya kegundahan hati saya adalah:
BASIS PESANTREN AKAN DILULUHLANTAKAN…
- Tony Blair datang ke Indonesia dulu dan mengunjungi pesantren, lalu mengundang beberapa santri untuk bertukar pikiran (pertukaran pelajar) ke “pesantren misionarisnya”, Gila! Nabi aja mengajar mendidik assabiqunal awwalun terlepas dari pengaruh Kaum Quraisy. Pesantren-pesantren mengirim santri ke Harvard, lalu entah balik dari sana sudah brainwash kali. Sekuat apapun keyakinan kita jika ditempatkan di lingkungan dan sehari-hari setiap waktu dijejali pemikiran lain tentu paling tidak ada perusbahan rasa, dari simpati ke empati dari sana ke pencucian otak. Jangan heran, komunitas Utan kayu begitu liberal. Gus Dur menjadi pendukung pluralisme, bahkan beberapa perda daerah dicap di-stigmatisasi dengan perda syariat diskriminatif oleh Wahid Institute (saya punya CD klaim itu keluaran WI), padahal di Papua, perayaan paskah ada Perda-nya. Kok gak kedengeran yah?!
- Bantuan Bush sebesar 137juta dolar AS untuk perubahan kurikulum pesantren: jihad diganti heurmenetika dan penyusupan filsafat barat. PERANG PEMIKIRAN. Maka jangan heran banyak oknum lulusan IAIN yang aneh-aneh, bahkan atheis dan super liberal. Oh ya, di berbagai daerah jika antum semua sempat berkunjung, kunjungilah pesantrennya, dan tanya apakah tiap tahun ada perwakilan 3-5 orang santri yang dikasih beasiswa ke PT-PT filsafat dan teologi, kasusnya Paramadina. Entahlah?!
- Rekans, mengapa ketika Tibo dieksekusi lalu Vatikan kebakaran Jenggot, mengapa isu ini luluh kemudian, dan kemana 16 orang yang disebut Tibo terlibat? Aneh. Lalu apakah pernah diumumkan oleh TV bahwa Tibo alumni pesantren mana? Bedakan dengan Amrozy cs yang diberitakan dari alumnus pesantren mana gitu. Selalu saja ada keterkaitan klo bom meledak: stigmatisasi alumnus pesantren mana nih yang berlaku? Apakah koruptor diberitakan dari alumnus mana? KAGAK!
Rekans, tujuan dibalik tujuan adalah muslihat semata. Biarlah antum tidak percaya pada konspirasi. Atau tulisan ini terlalu mengada-ngada karena tidak ada bukti-bukti ilmiah. (hehe pake Qur’an ketika ngerjain makalah kampus disebut gak ilmiah… aneh! padahal ngutip dari pemikir yang juga manusia itu juga gak tahu bener gak tau salah. Doi kan manusia juga. Trus kalim teori hanya di bidang tertentu saja. Al-Qur’an mah diklaim umat Islam di seluruh dunia sebagai pedoman hidup. Ya itulah kawan susahnya minta ampun!)
Rekans, tahu mengapa pesantren menjadi tujuan utama ini? Karena pesantrenlah yang melahirkan generasi penerus, penjaga Islam, Ulama pewaris Nabi. Rekans, juga perlu menyadari bahwasanya sementara antum yang alumni pesantren mahasiswa ‘menyusup” ke dalam tiga sektor utama, Apakah tidak merasa ada yang menyusup? Mudah bagi ‘mereka’ untuk mengetahui berapa nomor sepatu kita. Semoga belum dan tidak pernah akan karena saya yakin kekuatan kalian!
Saya bahagia jika tulisan-fikir ini ditanggapi karena masih banyak salah. Nulisnya aja gak EYD!
Wallahu’alam bishowab. Salah pada saya, benar dari Allah semata!
Source: dari milis forumlelaki



KARIkatur lumayan oke BOSS….
Posted by Dhian | 14 Juni 2011, 10:07 AMcuman lumayan nih… hehe^^
Posted by kanghadied | 15 Juni 2011, 4:28 PM