Suatu hari di negeri Turki, ada seorang Bapak yang kaya raya sedang menantikan kedatangan ajalnya. Ia memiliki dua orang anak yang akan mewarisi semua kekayaannya. Sebelum ajalnya datang ia memanggil kedua anaknya dan menyampaikan wasiatnya.
“Wahai anakku terimalah surat wasiatku ini. Di dalamnya ada dua buah wasiat yang harap ditunaikan sepeninggalku,” kata sang Bapak.
“Apakah gerangan isi wasiat itu duhai bapak. Sanggupkah kiranya kami menunaikannya?”, ujar sang anak.
Sang Bapak berkata,” Wasiat pertama, tolonglah pasangkan kaus kaki di kakiku yang sebelah kanan sebelum aku dimasukkan ke liang lahat. Wasiat kedua, aku wasiatkan kepada kalian sebuah peti kayu. Di dalamnya ada harta yang dapat memecahkan persoalan kalian yang paling pelik. Tapi ingat, kalian hanya boleh membukanya jika kalian benar-benar menemui masalah yang sangat pelik!” Kedua anaknya kemudian berbicara sebentar. Setelah dipikir-pikir, dua wasiat tersebut tidaklah terlampau sulit. Maka keduanya pun menyanggupinya.
Selang berapa waktu kemudian, malaikat Izrail pun mencabut nyawa sang Bapak. Maka kedua anaknya tersebut segera memanggil imam masjid di kampung mereka untuk menunaikan penyelenggaraan jenazah. Setelah dimandikan, dikafani, dan dishalati, maka tibalah saatnya sang mayat di antar ke kuburan.
Sang anak pun berkata kepada sang Imam, ”Wahai tuanku imam, sesungguhnya bapak kami telah berwasiat kepada kami agar kami memakaikan kaus kaki pada kaki kanannya.”
Sang Imam menjawab, ”Itu tidak mungkin wahai anakku. Syariat melarang jenazah menggunakan sesuatu selain kain kafan yang membalut tubuhnya.”
Sang anak pun mendebat sang Imam, ”Tetapi ini adalah wasiat bapak kami. Adalah sebuah kedurhakaan jika kami tidak menunaikannya.” Sang Imam tidak dapat membenarkannya. Kedua belah pihak tetap ngotot pada pendapatnya dan rasa-rasanya tidak ada jalan keluar yang dapat menegahi kedua belah pihak.
Akan tetapi, salah satu anak mengingat bahwa masih ada wasiat kedua dari bapaknya, “Duhai saudaraku, bukankah bapak kita masih memiliki satu wasiat lagi? Masalah ini nampaknya sangat pelik, mari kita tunaikan wasiat yang kedua. Mudah-mudahan dapat kita temukan jalan keluarnya”. Saudaranya pun setuju. Maka keduanya menghampiri peti kayu wasiat sang Bapak dan membuka isinya.
Setelah dibuka, ternyata isi peti tersebut adalah secarik kertas. Tertulis di situ, ”Wahai anakku, sesungguhnya kita tidak mampu membawa suatu apapun ke dalam kubur kita kecuali amal. Walaupun aku kaya raya, memiliki segalanya di dunia ini, sangat berkuasa terhadap segala hal duniawi, tetapi bahkan satu buah kaus kaki pun tak dapat kubawa bersamaku masuk ke dalam kubur.”
Wallahu’alam bishowab.
Source: dikutip dari catatan facebook Tegar Rezavie Ramadhan pada 23 Oktober 2010 jam 16:37.


Diskusi
Belum ada komentar.